Mounaward Ismail


Judul Judulan

Ditulis dalam Mismail oleh mouns di/pada November 1, 2007

BANDA ACEH (Waspada): Sebuah buku kecil soal liku-liku penyusunan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) diterbitkan di Jakarta Juli 2007. Namun, buku yang ditulis
Ketua Pansus Aceh Ferry Mursyidan Baldan, ini belum diluncurkan

“Peluncuran buku ini masih menunggu momen. Sebelumnya direncanakan pada 15 Agustus silam,” sebut Suradi, editor buku lewat surat elektronik yang Waspada terima, Rabu (23/10).

Buku berjudul Pondasi Menuju Perdamaian Abadi ini diberi pengantar oleh  Wakil Presiden  M Jusuf Kalla.

Dalam [engantarnya Kalla mengakui kerja berat sudah terselesaikan dengan ditandantangani perjanjian Helsinki antara RI-GAM pada 15 Agustus 2005.

Namun, kata dia bukan berarti kerja sudah selesai karena masih ada tugas berat lainnya di pelupuk mata yakni implementasi dari MoU Helsinki seperti penyusunan  UU tentang Pemerintahan Aceh.

MoU RI-GAM, menurut dia pada hakikatnya adalah pintu gerbang belaka bagi perdamaian abadi di Aceh. Perdamaian sesungguhnya baru tercipta dalam interaksi yang adil antara lembaga-lembaga negara di Pusat dan Pemerintahan Aceh dengan rakyat Aceh yang diwujudkan melalui pembahasan Undang-undang Pemerintahan Aceh.

“Saya menaruh harapan kepada Ferry yang menjadi Ketua Pansus RUU Pemerintahan Aceh. Ferry memiliki darah Aceh karena kedua orangtuanya berasal dari Aceh Selatan dan menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat, “ungkap Kalla.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Suara Bebas di Jakarta ini terdiri dari enam bab yang antara lain membahas RUUPA versi draf Gerakan Aceh Merdeka (GAM), draf Achehnese Civil Society Task Force (ACSTF) lembaga sipil Aceh, draf  Pemda Aceh dan draf dari Menteri Dalam Negeri yang pada akhirnya ini yang disodorkan ke DPR.

Pada bab ini dikupas kekecewaan rakyat Aceh karena berbagai pasal yang penting justru disensor. Bab selanjutnya riwayat singkat Ferry yang lahir di Jakarta pada 16 Juni 1960. Orangtua Ferry dari Manggamat Aceh Selatan yang kemudian pindah kerja ke Kantor Pusat Telkom di Bandung. Ferry muda tinggal di Kota Kembang selama delapan tahun ketika kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran. “Karena itulah, saya tidak bisa berbahasa Aceh,” ujar Ferry berdalih.

Buku setebal 259 halaman ini juga menampilkan galeri pendapat terhadap Ferry yang antara lain disampaikan oleh Sofyan Djalil, Prof Yusril Ihza Mahendra, Mustafa Abubakar, Muslim Ibrahim, Nasir Djamil, Teuku Kamaruzzaman dan Fikar W Eda yang pada intinya menjuluk Ferry sosok yang sabar, gigih, komunikatif dan murah senyum. Hal ini pun sudah terbukti ketika dia didemo di depan Meuligoe Gubernur Aceh pada 10 Maret 2006. Tak segan-segan dia duduk beralas aspal sambil tetap menebar senyum (b02)

Tinggalkan Balasan